... at one point, something starting from nothing ...

Kamis, 06 November 2014

Esok


Jika kebahagian di pastikan datang esok hari, maka mentari akan selalu di nanti. Dan malam tak lagi di rindukan. Namun, sunyi yang terdapat pada 1/3 malam tetap menjadi primadona.
Kali ini sebuket tulip. Sudah ke sekian kalinya aku menerima rangkaian bunga. Sikap laki-laki yang satu ini membuatku jengah. Rasanya tak ada hari yang ia lewatkan tanpa menunjukan batang hidungnya. Dua hari sekali sepucuk surat nangkring di atas meja kuliah, setiap pergantian mata kuliah titipan salam silih bergati, dan terkadang ia tak segang mendatangi langsung untuk memastikan keadaan. Sebijaksan penjelasan ku ungkap, mencintai itu  fitrah tapi menerimanya lebih dari teman belum bisa ku lakukan saat ini. Ku tarik nafas dan menghembuskan dalam diam.
 ‘hayyo,,, bunga lagi ya,,’ tegor Belda membuyarkan lamunan. ‘Raisa,, kurang apa sih Rangga? mantan ketua senat, aktivis, dan dia anggota Mapala!!! Sama alam aja sayang, apa apalagi sama pasangan? ’ lanjut belda mengompori.
‘iya juga ya... sayang kalau dilewatkan... ’ sahut ku tak kalah seru. Diikuti gerakan seolah sedang berfikir.
‘tuh mulai, ngeledek’ belda yang tau aku meledeknya langsung cemberut. Tak lama kami saling menatap, tawapun meledak meramaikan kelas Fak, komunikasi B Univ, Muhammadiyah.
‘sa, sini deh’ tarik Belda memposisikan agar kami duduk bersebelahan ‘aku boleh tau ga kenapa kamu nahan cinta Rangga?’ tanyanya dengan raut sok bijak.
‘memangnya ada yang mau cerita ya?’ sahut ku.
‘plis deh’ Belda tepok jidat. Matanya kembali tertuju memelas.
‘Gini da,,Cinta itu datangnya sederhana, saking sederhananya, kita tak sadar ia hampir memenuhi ½ relung sang hati. Seperti cinta pertama yang datangnya tad di duga’ ucap ku membuka kisah sembilan tahun lalu.

Hari-hari pertama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) ku hiasi dengan tangisan. Pasalnya setiap pagi, ayah dan ibu selalu bertengkar. Barang-barang rumah habis di bantingi ibu. Aku yang membenci pertengkarang bergegas pergi ke sekolah mencari ketenangan. Pendopo belakang sekolah yang sepi menjadi sasaran. Tanpa sebuah komando retakan bendungan yang sedari tertahan di perjalanan akhirnya pun jebol. Di tengah deras tangis, tiba-tiba seseorang menyapa.
‘hai, kenapa menangis?’ sapanya lembut yang ku jawab tangis.
‘aku adi, berbagi cerita tak ada salahnya bukan?’ ujarnya membuka pembicaraan lagi.
Perlahan wajah sendu timbul dari balik jubah. Samar-samar tertutupi air mata aku melihat matanya. Kepalaku menggeleng dan kembali merungkut kedalam jubah. Lama ia menemani hingga bel berdenting menandakan kelas akan dimulai. Ia pun pergi, meninggalkan buku harian yang kini menjadi brangkas isi hatiku.
Awalnya ku pikir tertinggal, nyatanya ditinggal. Torehan pena bertuliskan kata bijak menghiasi halaman pertama.
Tak ada alasan untuk kamu bersedih, tersenyumlah layaknya mentari pagi yang selalu di nanti. Dan jika kita bertemu kembali, jadilah mentari yang ku nanti.
                                                                                                           adi
Saat itu aku berfikir, mungkin tuhan sedang berbaik hati mengirimkan malaikat padaku. Note yang tertera di sampul buku itu, menyebabkan desir hati yang tak menentu. Perlahan pencarian pun dimulai. Meski hasilnya nihil. Karna keesokan hari ia pindah sekolah. Penyesalanpun datang bagai belatung yang mengerogoti.
                                                ***
‘oh gtu,,’ Belda manggut-manggut ‘jadi kamu nunggu dia? Nah kalo seandainya dia Cuma anggap kamu teman giman sa? Menanti yang tak pasti’
‘aduh belda,, siapa bilang ga pasti. Lah ketidakpastian itulah yang pasti bukan?’ tanyaku balik membingungkannya. ‘gini, aku cuma ingin mengucapkan terimakasih. Setelahnya baruku ku pikirkan akan jadian atau menikah dengan siapa’ penjelasan yang masuk akal.
‘da, aku pamit duluan ya,, mau ke cisadane.’ Pamit ku buru-buru
‘pasti deh, kebiasaan yang tak berubah’ celetuknya yang kusambut dengan senyum dan berlalu.
                                                  ***
Tanganku bergerak mengayun, melemparkan sesuatu kearah tengah sungai Cisadane. Sungai yang menjadi ikon kota Tangerang. Terlebih jika hari festival kebudayaan datang atau menjelang hari raya nasional dan weekend seperti saat ini.
Tenda-tenda, meja dan kursi bergelayut sepanjang pinggiran sungai cisadane. Jaring-jaring tali yang di ikatkan pada tepian sungai menciptakan suasana klasik. Ditambah lampion dengan berbagai bentuk di ikatkan pada tali tersebut. Air sungaipun memuncah mematulakan cahaya bak pelangi yang muncul setelah hujan berlalu.
 ‘assalamualaikum’ sapa laki-laki yang langsung memposisikan duduk di sampingku. sontak badanku menjauh sambil menjawab salamnya.
‘sedang apa? Ko sendiri?’ sambung laki-laki yang bernama Rangga
‘jalan-jalan, menikati keindahan sore,,,’ jawabku ketus
‘kecut sekali jawabmu. Mmm,, besok aku pergi ke cina. Pengajuan beasiswa S2 ku di terima oleh  Kedubes Cina’. Aneh, apa hubungannya? Sikapnya membuatku gugup. Tanpa meminta jawaban, ia melanjutkan pembicaraan.
‘pasti bingung ya’ ujarnya dengan senyum manis ‘aku cuma mau pamit aja, siapa tau aja nanti kamu kangen trus nyari aku ga ketemu’ kekehnya yang ku sambut dengan cemooh canda.
‘ada ya orang pede kaya kamu’ sambungku
‘dari pada minder’ kilahnya ‘nah sebagai hari perpisahan belikan aku satu makanan kesukaan mu’ permintaan yang aneh, meski tetap ku iyakan seraya beranjak pergi.
Tak perlu waktu lama cukup lima menit dua cup es cream duren sudah di tangan. Hanya, kecewa ku dapat. Ia sudah tak di tempat. Tertinggal sebuah benda persegi berukuran 20x15 cm. Raisa Tri Utami, namaku bertender di atasnya. Kali ini, hadiah apa lagi yang akan didapat. Kebiasaannya membuat ketergantungan tersendiri. Tanganku bergerak membuka bungkusan,,
Lam ku baca sepucuk surat darinya. Mendadak ulu hati ngilu, pacuan detak jantungku meninggi, ku edarkan pandangan mencari nya. Bagai burung keluar dari sangakar. Membabibuta aku mencari serpihan yang lama tercecer. Tuhan, mengapa petunjuk Mu begitu sulit di pahami. Hingga aku harus mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya. Kotak itu, berisikan satu buku diari yang sama persis dengan milikku, dan satu surat sebagai kunci kebodohanku.
Ternyata selama ini surat itu  menepi di dekat pintu seribu. Tempat dimana ia dan anak-anak pinggiran sungai cisadane biasa belajar membaca dan menulis. Awalnya sang botol di temukan Rara, yang kemudaian menjadi barang jarahannya untuk di jual. Sedang surat yang berada di dalamnya tetap utuh tak tersentuh. Jelas saja, karana Rara tak bisa membaca. Hingga Rangga datang menjadi guru mereka. Tumpukan surat itupun berpindah tangan yang tanpa sadar adalah pemilik aslinya.
Derai hujan membasahi tubuh yang kelu. Tangis menjadi lampiasan penyesalan. Perhatian dan surat yang ia kirim adalah balasannya untukku. Adi panggilang dari Fadillah. Ya, Rangga Fadillah. Mengapa aku baru menyadari setelah ia pergi? Betapa bodohnya aku. Tuhan, akan kah esok ku temukan mentari ? sedang hari ini ku redupkan harpan cahyanya.
0